Sabtu, 11 Maret 2017

Diantara Skripsi dan Mondok



Aku tidak pernah terangankan untuk belajar dengan ustadzah yang asli orang Arab, dan ustadzah lainnya yang merupakan lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir. Ini merupakan suatu motivasi terbesar sehingga merasa sangat rugi ketika di sia-siakan.πŸ˜ƒπŸ˜‡πŸ˜†

Dulu, ketika sekolah dasar, menengah maupun tingkat atas, aku sangat gengsi ketika harus sekolah di keagamaan. Sehingga ketika lulus dari ujian akhir sekolah, aku selalu minta orang tuaku mendaftarkan disekolah negeri, alhamdulillah nilai di Ijazahku selalu tinggi, jadi bebas memilih sekolahan mana aja, yang pasti anti yang namanya sekolah agama, padahal sekolahan sudah lengkap di dekat rumah, aku lebih memilih yang jauh, asalkan negeri. Dulu aku berfikir bahwa sekolah di MI, MTS ataupun MAN kuno, mainset ku salah, dan itu kusadari ketika aku menginjakkan kaki ke perguruan tinggi. Bahkan ketika aku lulus dari sekolah menengah kejuruan, aku masih saja termotivasi untuk mendaftar ke perguruan tinggi negeri terfavorit di Kalbar yang menjadi impianku selama 12 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku menduduki bangku kelas 5 SD aku sudah mempunyai impian untuk kuliah, impian yang aku tuliskan di selembar kertas. Ketika sedang sibuk membongkar buku-buku pelajaran yang bertumpuk, sehingga kutemukan selembar kertas yang bisa membuatku tersenyum ketika membacanya, selembar kertas yang berisikan “impianku ingin kuliah di untan tapi belum tentu bisa, untuk sekolah saja ekonomi sulit  apalagi kuliah, sedangkan teman-teman di gang pasti bisa kuliah, kan mereka anak orang kaya”. Impian tersebut kutulis dalam keadaan sedih, namun bisa membuatku gembira saat membacanya sekarang, alhamdulillah ternyata allah mengabulkan apa yang aku cita-citakan selama ini.

Sekarang aku tidak takut untuk bermimpi, kutulis banyak impian dalam selembar kertas, dan ku centang yang sudah terwujud. Ketika aku menginjakkan kaki di perguruan tinggi, aku pernah bermimpi untuk menjadi santri, untuk mondok di salah satu pondok psantren di Indonesia.

Pernah suatu ketika, aku merencanakan untuk berangkat ke Bekasi, aku ingin mondok di Pondok Psantrennya Ustadz Yusuf Mansur, namun belum kesampaian dikarenakan terkendala pada ekonomi, uangku belum mencukupi. Namun impianku belum ku kubur, aku masih terus berimpian untuk mondok, entahlah hidayah telah datang menerangi hati ini, sekian lama aku beranggapan bahwa sekolah keagamaan itu tidak keren, namun saat ini berputar, terbalik, semua itu menjadi impianku sekarang.

Alhamdulillah, allahhu rabbul’izzati,

Berawal dari aku ikut mendaftar les Bahasa arab setiap sore ba’dha ashar di hari senin s/d kamis, tempatnya tidak jauh dari rumahku sekitar 15 menit perjalanan dari rumah ke masjid tempat belajar. Disanalah aku mulai mengenal Bahasa arab sedalamnya, mengenal ustadz lulusan Madinah, bertemu langsung dengan syeikh dari Yaman, semua itu membuatku semakin semangat mendalami Bahasa arab. Banyak kisah-kisah dan pengalaman yang beliau ceritakan, sehingga menambah motivasi kepada diri ini sehingga aku begitu yakin bahwa sesungguhnya ilmu agama itu sangat dibutuhkan, ilmu agama merupakan kebutuhan primer dalam hidup kita. Les Bahasa arab ku ikuti sejak aku semester 2 selama hampir 1 tahun berjalan, aku memutuskan untuk istirahat les Bahasa arab, focus dengan kuliah dan organisasi.

Dua tahun berlalu, aku tidak pernah mempelajari Bahasa arab lagi, dikarenakan focusku berubah ke kuliah dan organisai, namun di tahun 2016, allah mentakdirkan aku untuk mencintai dalam mendalami Bahasa arab lagi. Ketika kuliahku telah selesai, hanya tinggal menyelesaikan skripsi, aku mendapatkan info dari Ustzadz dan teman les ku dulu, bahwa salah satu ma’had di Kuburaya membuka pedaftaran untuk mahasiswi program Bahasa Arab dengan semua pengajar lulusan Al-Azhar Cairo-Mesir, kebetulan aku mulai mengenali Universitas Al-Azhar ketika aku menonton sebuah film yang merupakan kisah dari sebuah novel karangan Habiburrahman El-Sirazhi, jalan ceritanya sangat bagus, dan aku juga telah jatuh cinta dengan Universitas Al-Azhar, ada rasa ingin menimba ilmu disana, namun belum menemukan jalannya.

Aku berfikir bahwa, skripsi bukanlah penghalang bagiku untuk mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain, dengan menguras banyak fikiran, tenaga dan uang, aku tidak boleh menghabiskan waktu disini saja, aku juga harus bisa mengkoordinir waktuku untuk akhirat. Kuliah yang kujalani sekarang sampai skripsi merupakan ilmu duniawi, sedangkan Bahasa arab merupakan ilmu akhirat, itulah yang memperkuat motivasi pada diriku sendiri, dimana aku harus menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhiratku kelak, aku berfikir bahwa kematian itu pasti datang, aku takut ketika kematian datang menjemput, aku belum mempunyai bekal. Itulah motivasi yang kujalani saat ini, Sehingga dengan kesempatan kali ini aku berfikir bahwa ini merupakan jalan yang telah allah berikan kepada ku, yang merupakan proses perjalanan untuk ku menuju kepada impianku, dengan bismillah ku jalani semua ini dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan bisa mendalami ilmu Allah, ilmu akhirat bersyukur allah memberikan kesempatan yang tidak akan datang untuk kedua kalinya, tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini, semua ini kujalani juga dengan maksud sambil menunggu kekasih hidup yang sedang menabung untuk datang mengkhidbah, ijab dan qobul untuk menjadikanku teman sehidup sematinya dan bisa mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholeha semoga setelah selesai kuliah Bahasa di mahad ini, aku bisa melanjutkannya ke Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir bersama suami tercinta. Aaamiiin ya Rabbal’aalamiinπŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜„

Pontianak, 9 Maret 2017.

Tidak ada komentar: