Aku
tidak pernah terangankan untuk belajar dengan ustadzah yang asli orang Arab,
dan ustadzah lainnya yang merupakan lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir.
Ini merupakan suatu motivasi terbesar sehingga merasa sangat rugi ketika di
sia-siakan.😃😇😆
Dulu,
ketika sekolah dasar, menengah maupun tingkat atas, aku sangat gengsi ketika
harus sekolah di keagamaan. Sehingga ketika lulus dari ujian akhir sekolah, aku
selalu minta orang tuaku mendaftarkan disekolah negeri, alhamdulillah nilai di
Ijazahku selalu tinggi, jadi bebas memilih sekolahan mana aja, yang pasti anti
yang namanya sekolah agama, padahal sekolahan sudah lengkap di dekat rumah, aku
lebih memilih yang jauh, asalkan negeri. Dulu aku berfikir bahwa sekolah di MI,
MTS ataupun MAN kuno, mainset ku salah, dan itu kusadari ketika aku
menginjakkan kaki ke perguruan tinggi. Bahkan ketika aku lulus dari sekolah
menengah kejuruan, aku masih saja termotivasi untuk mendaftar ke perguruan
tinggi negeri terfavorit di Kalbar yang menjadi impianku selama 12 tahun yang
lalu, tepatnya ketika aku menduduki bangku kelas 5 SD aku sudah mempunyai
impian untuk kuliah, impian yang aku tuliskan di selembar kertas. Ketika sedang
sibuk membongkar buku-buku pelajaran yang bertumpuk, sehingga kutemukan
selembar kertas yang bisa membuatku tersenyum ketika membacanya, selembar
kertas yang berisikan “impianku ingin kuliah di untan tapi belum tentu bisa,
untuk sekolah saja ekonomi sulit apalagi
kuliah, sedangkan teman-teman di gang pasti bisa kuliah, kan mereka anak orang
kaya”. Impian tersebut kutulis dalam keadaan sedih, namun bisa membuatku
gembira saat membacanya sekarang, alhamdulillah ternyata allah mengabulkan apa
yang aku cita-citakan selama ini.
Sekarang
aku tidak takut untuk bermimpi, kutulis banyak impian dalam selembar kertas,
dan ku centang yang sudah terwujud. Ketika aku menginjakkan kaki di perguruan tinggi,
aku pernah bermimpi untuk menjadi santri, untuk mondok di salah satu pondok
psantren di Indonesia.
Pernah
suatu ketika, aku merencanakan untuk berangkat ke Bekasi, aku ingin mondok di
Pondok Psantrennya Ustadz Yusuf Mansur, namun belum kesampaian dikarenakan
terkendala pada ekonomi, uangku belum mencukupi. Namun impianku belum ku kubur,
aku masih terus berimpian untuk mondok, entahlah hidayah telah datang menerangi
hati ini, sekian lama aku beranggapan bahwa sekolah keagamaan itu tidak keren,
namun saat ini berputar, terbalik, semua itu menjadi impianku sekarang.
Alhamdulillah,
allahhu rabbul’izzati,
Berawal
dari aku ikut mendaftar les Bahasa arab setiap sore ba’dha ashar di hari senin
s/d kamis, tempatnya tidak jauh dari rumahku sekitar 15 menit perjalanan dari
rumah ke masjid tempat belajar. Disanalah aku mulai mengenal Bahasa arab
sedalamnya, mengenal ustadz lulusan Madinah, bertemu langsung dengan syeikh
dari Yaman, semua itu membuatku semakin semangat mendalami Bahasa arab. Banyak
kisah-kisah dan pengalaman yang beliau ceritakan, sehingga menambah motivasi
kepada diri ini sehingga aku begitu yakin bahwa sesungguhnya ilmu agama itu
sangat dibutuhkan, ilmu agama merupakan kebutuhan primer dalam hidup kita. Les
Bahasa arab ku ikuti sejak aku semester 2 selama hampir 1 tahun berjalan, aku
memutuskan untuk istirahat les Bahasa arab, focus dengan kuliah dan organisasi.
Dua
tahun berlalu, aku tidak pernah mempelajari Bahasa arab lagi, dikarenakan
focusku berubah ke kuliah dan organisai, namun di tahun 2016, allah
mentakdirkan aku untuk mencintai dalam mendalami Bahasa arab lagi. Ketika
kuliahku telah selesai, hanya tinggal menyelesaikan skripsi, aku mendapatkan
info dari Ustzadz dan teman les ku dulu, bahwa salah satu ma’had di Kuburaya
membuka pedaftaran untuk mahasiswi program Bahasa Arab dengan semua pengajar
lulusan Al-Azhar Cairo-Mesir, kebetulan aku mulai mengenali Universitas
Al-Azhar ketika aku menonton sebuah film yang merupakan kisah dari sebuah novel
karangan Habiburrahman El-Sirazhi, jalan ceritanya sangat bagus, dan aku juga
telah jatuh cinta dengan Universitas Al-Azhar, ada rasa ingin menimba ilmu
disana, namun belum menemukan jalannya.
Aku
berfikir bahwa, skripsi bukanlah penghalang bagiku untuk mewujudkan
mimpi-mimpiku yang lain, dengan menguras banyak fikiran, tenaga dan uang, aku
tidak boleh menghabiskan waktu disini saja, aku juga harus bisa mengkoordinir
waktuku untuk akhirat. Kuliah yang kujalani sekarang sampai skripsi merupakan
ilmu duniawi, sedangkan Bahasa arab merupakan ilmu akhirat, itulah yang
memperkuat motivasi pada diriku sendiri, dimana aku harus menyeimbangkan antara
kebutuhan dunia dan kebutuhan akhiratku kelak, aku berfikir bahwa kematian itu
pasti datang, aku takut ketika kematian datang menjemput, aku belum mempunyai bekal.
Itulah motivasi yang kujalani saat ini, Sehingga dengan kesempatan kali ini aku
berfikir bahwa ini merupakan jalan yang telah allah berikan kepada ku, yang
merupakan proses perjalanan untuk ku menuju kepada impianku, dengan bismillah
ku jalani semua ini dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan bisa mendalami ilmu
Allah, ilmu akhirat bersyukur allah memberikan kesempatan yang tidak akan
datang untuk kedua kalinya, tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini, semua ini
kujalani juga dengan maksud sambil menunggu kekasih hidup yang sedang menabung
untuk datang mengkhidbah, ijab dan qobul untuk menjadikanku teman sehidup
sematinya dan bisa mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholeha semoga setelah
selesai kuliah Bahasa di mahad ini, aku bisa melanjutkannya ke Universitas
Al-Azhar, Cairo-Mesir bersama suami tercinta. Aaamiiin ya Rabbal’aalamiin😄😃😄
Pontianak, 9 Maret 2017.